Rabu, 22 Februari 2017

Inilah 3 Alasan Kenapa Pasangan Selingkuh

   Setiap hubungan percintaan tidak dapat dipungkiri keinginan untuk berselingkuh kerap timbul. Lantas, apa yang menyebabkan keinginan tersebut menghampiri para pasangan? Penulis Amerika Peggy Vaughan sempat menjelaskan dalam bukunya The Monogamy Myth bahwa hampir 60 persen pria dan 40 persen wanita memiliki perselingkuhan di beberapa titik dalam hidup pernikahan mereka. Dan itu tidak selalu hanya tentang seks. Perselingkuhan adalah gejala dari sebuah hubungan yang sebelumnya dilanda masalah untuk beberapa waktu. Perselingkuhan merupakan cara untuk mengatasi kekurangan dalam hubungan mereka. Pelarian itu dikarenakan mereka kurang kasih sayang, perhatian, seks, rasa hormat atau bahkan hubungan emosional. Jadi pada saat Anda mendengar perselingkuhan seseorang dan berpikir, “Mengapa dia melakukan itu?” Inilah jawabannya,

Mereka tidak merasa aman
     Jika Anda terus-menerus melihat hubungan Anda menuju keruntuhan, mungkin itu pertanda salah satu pasangannya selingkuh. Loyalitas dan kesetiaan berkembang dalam sebuah pernikahan. Kedua pasangan pun perlu mengalami aliran mantap, konsisten kasih sayang dan kepercayaan. "Emosi adalah berharga, dan penting dalam sebuah pernikahan," kata psikiater dan pakar hubungan, Dr Siladitya Ray.

Mereka tidak ada bahan pembicaraan
      Setelah menjalani hubungan rumah tangga yang cukup lama, terkadang tidak ada bahan pembicaraan yang dapat diobrolkan. Mungkin Anda pernah mengalaminya, itulah yang terkadang menjadi kendala Anda berdua. Solusinya adalah menjaga motivasi satu sama lain, menyiapkan untuk melangkah jauh ke depan tentang apa yang ingin Anda berdua capai.

Mereka marah dan menyembunyikannya
    Jika perkelahian Anda biasanya berakhir dengan dia menelepon dengan emosional dan Anda memanggilnya dingin. Hal ini jelas membuat keadaan menjadi kurang nyaman. Ketimbang berdiam diri segera lakukan sesuatu. “Katakan padanya ketika sesuatu yang dilakukannya menyakiti Anda,"

Inilah 3 Alasan Kenapa Pasangan Selingkuh



Setiap hubungan percintaan tidak dapat dipungkiri keinginan untuk berselingkuh kerap timbul. Lantas, apa yang menyebabkan keinginan tersebut menghampiri para pasangan?
Penulis Amerika Peggy Vaughan sempat menjelaskan dalam bukunya The Monogamy Myth bahwa hampir 60 persen pria dan 40 persen wanita memiliki perselingkuhan di beberapa titik dalam hidup pernikahan mereka. Dan itu tidak selalu hanya tentang seks.
Perselingkuhan adalah gejala dari sebuah hubungan yang sebelumnya dilanda masalah untuk beberapa waktu. Perselingkuhan merupakan cara untuk mengatasi kekurangan dalam hubungan mereka. Pelarian itu dikarenakan mereka kurang kasih sayang, perhatian, seks, rasa hormat atau bahkan hubungan emosional. Jadi pada saat Anda mendengar perselingkuhan seseorang dan berpikir, “Mengapa dia melakukan itu?” Inilah jawabannya, seperti dilansir iDiva.
Mereka tidak merasa aman
Jika Anda terus-menerus melihat hubungan Anda menuju keruntuhan, mungkin itu pertanda salah satu pasangannya selingkuh. Loyalitas dan kesetiaan berkembang dalam sebuah pernikahan. Kedua
pasangan pun perlu mengalami aliran mantap, konsisten kasih sayang dan kepercayaan. "Emosi adalah berharga, dan penting dalam sebuah pernikahan," kata psikiater dan pakar hubungan, Dr Siladitya Ray.
Mereka tidak ada bahan pembicaraan
Setelah menjalani hubungan rumah tangga yang cukup lama, terkadang tidak ada bahan pembicaraan yang dapat diobrolkan. Mungkin Anda pernah mengalaminya, itulah yang terkadang menjadi kendala Anda berdua. Solusinya adalah menjaga motivasi satu sama lain, menyiapkan untuk melangkah jauh ke depan tentang apa yang ingin Anda berdua capai.
Mereka marah dan menyembunyikannya
Jika perkelahian Anda biasanya berakhir dengan dia menelepon dengan emosional dan Anda memanggilnya dingin. Hal ini jelas membuat keadaan menjadi kurang nyaman. Ketimbang berdiam diri segera lakukan sesuatu. “Katakan padanya ketika sesuatu yang dilakukannya menyakiti Anda," kata Dr Ray.

- See more at: http://www.liputan6.info/2012/11/inilah-3-alasan-kenapa-pasangan.html#sthash.wyFJaFgo.dpuf
10 Alasan Mantan Pacar Tak Bisa Jadi Teman Baik 



 Alasan Mantan Pacar Tak Bisa Jadi Teman Baik - "Walau sudah putus, tapi kita tetap berteman ya." Ungkapan ini mungkin jadi kata-kata sakti untuk mengakhiri hubungan percintaan, dan rasanya jadi menenangkan karena kita bersikap tidak menciptakan musuh. Niatnya sih baik, sekalipun sudah jadi mantan tapi tetap ingin menjaga hubungan baik. Kenyataannya, hal ini tidak mudah dilakukan. Alasan utama pasangan putus hubungan adalah karena sakit hati. Lalu, mudahkah Anda tetap menjalin pertemanan akrab seperti sebelumnya dengan orang yang sudah menyakiti hati? Sesekali sih mungkin tak masalah, tapi kalau menjadi sahabat yang sering jalan bareng? Rasanya sulit dan tidak mungkin dilakukan! Berikut alasan mengapa Anda dan dia tak mungkin bisa jadi teman baik setelah putus hubungan.
  
1. Ini penyiksaan
   Tak bisa dimungkiri bahwa selama berpacaran pasti ada banyak kenangan manis yang membekas di ingatan. Sungguh menyiksa rasanya, jika tiba-tiba Anda "nongkrong" bersamanya sebagai teman, lalu tiba-tiba ia melakukan sesuatu yang romantis atau membangkitkan ingatan pada kenangan masa lalu. Mungkin saja saat itu Anda ingin memeluk atau bahkan mencubitnya mesra. Eits... ingat, dia sekarang bukan lagi pacar Anda, jadi Anda tak bisa lagi melakukan hal itu. Ini pasti sangat menyiksa kan?

2. Harapan palsu 
   Akui saja, beberapa perbuatannya (yang mungkin saja dilakukannya karena Anda sudah dianggap teman) pasti ada yang membuat Anda jadi ge-er, dan seolah memberi harapan untuk balikan. Padahal maksudnya tidak seperti itu. Hati-hati, Anda justru makin sakit hati karena harapan palsu ini. Jika tidak untuk Anda, maka mungkin saja Anda yang melakukan hal tersebut untuk si dia.

3. Anda tidak bisa kembali ke masa lalu 
   Ketika pacaran, secara tak langsung Anda dan pasangan sudah saling tahu satu sama lain. Baik sifat baik atau sifat buruknya. Sekalipun sudah putus, bukan berarti mereka akan lupa akan hal ini. Bisa jadi ketika sedang hangout bersama teman-teman, Anda justru dipermalukan karena si dia keceplosan menceritakan kejelekan Anda.

4. Anda tidak benar-benar jujur ingin mantan bersama orang lain 
   Entah karena alasan apa pun, jujur saja kalau ada bagian dalam hati Anda yang tidak menginginkan si mantan bisa mendapatkan pengganti Anda. Walaupun di mulut Anda mengungkapkan hal yang sebaliknya untuk dia. Dari sini sudah terlihat bahwa tidak ada jalinan pertemanan yang tulus. Karena, teman sejati adalah teman yang ingin melihat temannya bahagia.

5. Tidak bisa curhat pribadi
    Selama pacaran, pasti Anda sering curhat tentang semua masalah pribadi Anda. Tetapi setelah putus, pasti ada rasa canggung yang muncul ketika Anda mau curhat. Padahal seharusnya, teman bisa jadi teman curhat yang menenangkan hati, bukan bikin canggung

6. Anda mau datang ke pernikahannya?
    Mungkin saat ini, Anda bersedia jadi temannya. Namun pikirkan, apa Anda mau datang ke pesta pernikahannya nanti? Apalagi Anda sendiri dalam keadaan jomblo? Kalau benar-benar jadi teman yang tulus seharusnya tidak keberatan dengan hal ini.

7. Suasananya jadi canggung untuk sahabat Anda berdua
    Mereka tahu Anda sempat berkencan, tapi mereka juga tahu kalau Anda sudah putus. Nah lho, apa yang harus mereka lakukan kalau sedang bersama Anda berdua? Mendorong Anda untuk kembali bersama, padahal tahu bahwa Anda atau dia sudah punya kekasih baru?
  
8. Membangkitkan memori 
    Selama bersama, pasti ada banyak julukan, atau candaan yang biasa dilontarkan. Nah, ketika sedang hangout bareng, mungkin saja ada yang keceplosan untuk memanggil nama kesayangan sewaktu pacaran. Mau tak mau ada kerinduan dan kenangan manis yang mulai muncul sekalipun Anda berdua sudah putus. Aduh, ini membingungkan.

9. Lebih sulit menemukan cinta baru
    Tak cuma hati Anda saja yang akan sakit jika terlalu sering jalan dan memendam perasaan kepada si mantan. Coba pikirkan, bagaimana perasaan orang yang mungkin saja sedang menyukai dan berusaha mendekati Anda. Bisa-bisa, pria baru ini justru akan mundur teratur karena menganggap Anda masih punya pacar atau masih mencintai mantan kekasih.

10. Semakin sakit hati 
     Putus cinta pasti sangat menyakitkan. Lalu kenapa tidak menghabiskan waktu dan energi Anda bersama dengan orang yang bisa membuat Anda merasa senang, dan bukan orang yang menyakiti Anda? -

Senin, 13 Februari 2017

MOTIVASI SUKSES DALAM BELAJAR UNTUK MASA DEPAN

Image result for sukses
Mengutip pendapat Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), “motivation is energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari perumusan yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: 1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, 2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal), 3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan
Dari uraian di atas jelas kiranya bahwa motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Makin berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motivasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang. Pen
1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh.
3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. (Ngalim Purwanto, 2002: 71)

Jenis-jenis motivasi 
1. Motivasi intrinsik, yang timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperolah informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain.
2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu. (Tabrani, 1992: 120)

Lalu bagaimanakan cara untuk meningkatkan motivasi siswa agar mereka memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, khususnya bagi mereka yang memiliki motivasi rendah dalam berprestasi. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:


1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar hendaknya seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai siswa. Tidak cukup sampai di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan penjelasan tentang pentingnya ilmu yang akan sangat berguna bagi masa depan seseorang, baik dengan norma agama maupun sosial. Makin jelas tujuan, maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah. Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di sini tidak perlu harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid, sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir semester, guru bisa memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku bacaan) bagi siswa ranking 1-3.

3. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari hal yang paling kecil seperti, “beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.

5. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang bersifat fisik, seperti menyapu kelas, berdiri di depan kelas, atau lari memutari halaman sekolah. Karena ini jelas akan menganggu psikis siswa.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik, khususnya bagi mereka yang secara prestasi tertinggal oleh siswa lainnya. Di sini guru dituntut untuk bisa lebih jeli terhadap kondisi anak didiknya. Ingat ini bukan hanya tugas guru bimbingan konseling (BK) saja, tapi merupakan kewajiban setiap guru, sebagai orang yang telah dipercaya orang tua siswa untuk mendidik anak mereka.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik, entah itu ketika siswa belajar sendiri maupun secara kelompok. Dengan cara ini siswa diharapkan untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah pemahaman dengan buku-buku yang mendukung.

8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Ini bisa dilakukan seperti pada nomor 6.

9. Menggunakan metode yang bervariasi. Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat dan berfariasi, yang bisa membangkitkan semangat siswa, yang tidak membuat siswa merasa jenuh, dan yang tak kalah penting adalah bisa menampung semua kepentingan siswa. Sperti Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM, mapun yang lainnya. Karena siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda satu sama lainnya. Ada siswa yang hanya butuh 5 menit untuk memahami suatu materi, tapi ada siswa yang membutuhkan 25 menit baru ia bisa mencerna materi. Itu contoh mudahnya. Semakin banyak metode mengajar yang dikuasai oleh seorang guru, maka ia akan semakin berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media visual maupun audio visual.
h

Sumber Bacaan:
http://nadhirin.blogspot.com//

Goleman, Daniel, Emitional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ, Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
Tabrani Rusyan, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.



Jogjakarta, Sabtu 15 Januari 2010